Cerita
Pengalama ke Pasar
Pada tangggal 28 Oktober 2018,Saya
di beri tugas kelompok untuk melakukan survey pasar dab berangkat pukul 7 lewat
dan sampai di pasar jam 8 kurang, setelah itu kami masuk pasar dan langsung
mencari pedagang yang masih belum di wawancari oleh kelompok lain dan kita
menemukan pedagang sayur yang masih sepi (belum di wawancarai) dan karena juga
pedagang tersebut menjual salah satu komoditas Agribisnis dan kita memutuskan untuk mewawancarai
pedagang sayur tersebut.
Dari
survey yang telah dilakukan, diperoleh jawaban atas pertanyaan yang telah
diajukan kepada pedagang sayur tersebut. Adapun nama pedagang sayur yang kita
survey adalah Bapak Muhammad Rasidi. Supaya lebih akrab lagi, kita memilih
memanggilnya dengan ‘Pak Rasid’. Rupanya, tempat tinggal Pak Rasid tidak jauh
dari tempat dia berdagang, yaitu ada di sebelah timur dari pasar yang dulu
(Pasar Socah terdahulu), dimana pasar yang sebelumnya berada di sebelah barat
atau di perempatan yang ada di Kecamatan Socah. Bapak Rasid ini lahir pada
tahun 1983, yang artinya beliau saat ini berumur 35 tahun. Diumurnya yang
sekarang sudah mencapai kepala 3, rupanya beliau sudah dikaruniani 4 orang anak
dan beruntungnya hingga saat ini beliau tetap memiliki 1 orang istri. Anak yang
pertama atau anak tertua dari ketiga saudaranya bernama Alma yang berumur 15
tahun, anak kedua diberi nama Labib yang umurnya 10 tahun, anak yang ketiga
bernama Esta yang umurnya sama dengan keponakan saya yang berumur 6 tahun dan
anak yang keempat bernama Inez yang berumur 4 tahun.
Pak Rasid berprofesi sebagai pedagang sayur selama 15
tahun yang dimulai dari tahun 2003, yang alhamdulillah bisa bertahan hingga
saat ini. Da;am menjalankan usahanya Pak Rasid tidak sendirian beliau ditemani
sang isteri yaitu Ibu Saryati dan juga membantu jika keadaan lapak sedang rame
dangan pembeli, meskipun di pasar tentunya banyak sekali pedagang sayur selain
Pak Rasid. Tapi, karena Pak Rasid sudah berpengalaman di nidang ini, beliau
sudah handal untuk mengatasi permasalahan atau hambatan yang bisa mengancam
kesuksesannya sebagai pedagang sayur yang sukses. Selain handal dalam bidang
jual menjual sayuran ini, rupanya Pak Rasid mempunyai keunikan tersendiri,
dimana beliau menjual beberapa sayuran yang tidak dijual oleh pedagang sayur
yang lainnya, seperti lobak, buat bit, jengkol dan sebagainya. Sehingga, dari
keunikannya ini, banyak pembeli yang lebih memilih membeli sayuran di tempat
Pak Rasid ini. Dari profesinya sebagai pedagang sayur ini, ternyata ada suka
dan duka yang selama ini dirasakan oleh Pak Rasid. Suka nya menjadi seorang
pedagang sayur adalah banyak nya sayuran yang dijual, apalagi jika sayurannya
lebih lengkap dari pedagang yang lainnya, sehingga banyak pembeli yang
tertarik. Dukanya menjadi seorang pedagang sayur menurut Pak Rasid adalah saat
sayur sayurnya tidak laku di pasaran, maka mau tidak mau haru dikonsumi sendiri
atau ada yang harus dibagikan dengan tetangga sekitarnya. Selain suka duka
menjadi seorang pedagang sayur, ternyata ada hambatan yang bisa menghambat
kinerja Pak Rasid. Hambatannya yaitu ketika Pak Rasid ingin mengambil atau
membeli pasokan sayuran ke Surabaya, tapi di tengah perjalanan, ada insiden
yang terjadi pada mobilnya, yaitu insiden ban bocor. Dan hal tersebut, sangat
merepotkan bagi Pak Rasid. Untuk mewaspadai jika hal tersebut terjadi lagi,
jasi Pak Rais sudah menyiapkan ban cadangan di mobilnya, karena selama ini Pak
Rasid tidak pernah membawa ban cadangan karena menurutnya hal iru sagat
merepotkan dirinya. Selain itu, semenjak kejadian tersebut, Pak Rasid mulai
belajar bagaimana cara mengganti ban mobil yang bocor, sehingga tidak perlu
menunggu petugas bengkel datang untuk membantunya.Pak Rasid juga berkeinginan
pernah ingin membuka usaha lain yaitu sebagai penjual jamu namun karena keterbatasan
modal maka Pak Rasid tetap berjualan sayur dan bekeingingan mengembangkan
usahanya menjadi lebih besar namun lagi-lagi terkendala oleh modal.
Sekian pengalaman saya dan kelompok dalam survey pasar
dari tugas mata kuliah kewirausahaan.
Komentar
Posting Komentar