Kelembagaan Agripet
Pengembangan Strategi Agribisnis Sapi
Potong di Kabupaten Bondowoso
Hasil analisis matriks IFE menunjukkan
bahwa faktor kekuatan yang memiliki skor tertinggi adalah ketersediaan bibit,
mutu bibit, dan produktivitas ternak dengan bobot 0,091 dan nilai peringkat 4
sehingga menghasilkan skor sebesar 0,365. Narasumber sepakat bahwa ketersediaan
bibit, mutu bibit, dan produktivitas ternak merupakan faktor yang sangat
penting memengaruhi pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten Bondowoso.
Oleh karena itu, faktor ketersediaan bibit, mutu bibit, dan produktivitas
ternak menjadi faktor kekuatan utama yang merupakan kunci sukses yang harus
dimaksimalkan. Mutu bibit dan produktivitas ternak di Kabupaten Bondowoso sudah
cukup bagus, keberhasilan inseminasi buatan yang dilakukan terhadap ternak ±
85%, dan calving interval pada proses reproduksi rata-rata selama 1416 bulan,
hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa calving interval yang
ideal pada sapi betina adala 1214 bulan (Gutierrez et al. 2002). Hal ini harus
didukung oleh faktor-faktor lainnya sehingga potensi Kabupaten Bondowoso dapat
dimaksimalkan dan pengembangan agribisnis sapi potong dapat tercapai.
Faktor kelemahan yang memiliki skor
terendah adalah faktor potensi sumber daya peternak dan kemampuan manajerial
peternak dengan bobot sebesar 0,058 dan peringkat 1 sehingga menghasilkan skor
sebesar 0,058. Hal ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya peternak dan
kemampuan manajerial peternak perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah
untuk segera dibenahi. Kemampuan manajerial peternak di Kabupaten Bondowoso
tergolong rendah hal ini dipengaruhi oleh kurangnya pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan peternak dan rendahnya tingkat pendidikan peternak.
Pelatihan sangat diperlukan oleh peternak untuk meningkatkan kemampuan
manajerial peternak sehingga peternak dapat meningkatkan skala usahanya dan
peternak dapat hidup sejahtera. Dzanja et al. (2013) menyatakan bahwa peternak
dengan kemampuan manajerial rendah tidak dapat memanfaatkan teknologi dalam
pemeliharaan ternak dan menentukan waktu yang tepat untuk melepas ternak ke
pasar sehingga peternak akan mendapatkan keuntungan yang sedikit dan kondisi
perekonomiannya akan tetap miskin. Peningkatan kemampuan manajerial peternak
dan kemampuan peternak dalam memanfaatkan teknologi tepat guna di bidang
peternakan perlu dilakukan strategi pelatihan yang intensif pada peternak dalam
hal ini peran dari kelompok peternak sangatlah penting sebagai media pelaksana
(Isbandi 2004). Sumber daya manusia dalam hal ini adalah peternak, mempunyai
peranan yang sangat penting dalam pengembangan agribisnis sapi potong di
Kabupaten Bondowoso sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa suksesnya
pembangunan pertanian ditentukan oleh koordinasi antara pelaku pembangunan
pertanian meliputi departemen teknis terkait diantaranya pemerintah daerah,
petani (peternak), pihak swasta, masyarakat, dan pemangku kepentingan
(stakeholder) (Iqbal 2007). Adapun hasil analisis IFE dapat dilihat pada Tabel
1.
Peluang utama pada analisis EFE yang
dapat dimanfaatkan oleh Kabupaten Bondowoso adalah peningkatan harga daging
dengan bobot sebesar 0,183 dan peringkat 4 sehingga mendapatkan skor tertinggi
sebesar 0,733. Peningkatan harga daging memberikan pengaruh yang cukup besar
pada pendapatan peternak sehingga peternak dapat menambah skala usahanya dengan
menambah populasi sapi potong. Program swasembada daging sapi tahun 2014
(PSDS-2014) merupakan salah satu dari 21 program utama dari Departemen
Pertanian yang terkait dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan ketahanan
pangan hewani yang berasal dari ternak berbasis sumber daya domestik (Deptan
2010). Program PSDS ini menjadi peluang bagi Kabupaten Bondowoso untuk
mengembangkan agribisnis sapi potong karena hingga saat ini program PSDS belum
tercapai sepenuhnya.
Ancaman utama yang perlu diwaspadai oleh
Kabupaten Bondowoso adalah kebijakan impor daging masuk ke Indonesia.
Narasumber memberikan bobot sebesar 0,225 dan rating 2 sehingga mendapatkan
skor sebesar 0,450. Kebijakan pemerintah untuk membuka impor daging ke
Indonesia menjadi ancaman bagi peternak dalam negeri karena kebijakan impor ini
akan berpengaruh terhadap permintaan daging sapi lokal, selain itu
kecenderungan volume impor yang terus meningkat akan secara otomatis menguras
devisa yang sangat besar. Kondisi ini menyebabkan kemandirian dan kedaulatan
pangan khususnya daging sapi akan semakin jauh dari harapan (Sodiq 2010). Hasil
analisis EFE dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil analisis dengan menggunakan IFE
dan EFE masing-masing diperoleh skor IFE = 2.716 dan EFE = 3.123. Skor ini
kemudian dimasukkan ke dalam analisis internal eksternal (IE). Hasil evaluasi
pada Tabel 3 menempatkan pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten
Bondowoso berada pada kuadran II (Grow and Build). Strategi yang dapat
dilakukan adalah dengan menerapkan penambahan populasi dan peningkatan
kemampuan manajerial peternak.
Formulasi strategi
pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten Bondowoso diperoleh dengan
menggunakan analisis SWOT. Menurut David (2009) alternatif strategi dibagi
menjadi empat, yaitu strategi S-O (strength-opportunities), strategi W-O
(weaknesses-opportunities), strategi S-T (strength-threats), dan strategi W-T
(weaknesses-threats). Penyusunan strategi pada matriks SWOT dihasilkan 5
alternatif strategi sesuai dengan faktor internal dan eksternal untuk
pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten Bondowoso dapat dilihat dalam
Tabel 4. Analisis SWOT menghasilkan 5
strategi yang paling sesuai berdasarkan analisis posisi Kabupaten Bondowoso
kemudian dilakukan penilaian terhadap masing-masing alternatif strategi untuk
memperoleh prioritas strategi. Penentuan strategi prioritas diperoleh melalui
analisis QSPM. Hasil analisis QSPM disajikan pada Tabel 5. Hasil analisis QSPM
pada Tabel 5 menunjukkan bahwa prioritas pilihan strategi utama yang harus
dilakukan oleh Kabupaten Bondowoso adalah mengintegrasikan antara subsistem
agribisnis dengan nilai TAS (total atrractiveness score) sebesar 15.616. Yusdja
dan Ilham (2004) menyatakan bahwa pengembangan agribisnis sapi potong yang
efektif dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa subsistem ke dalam sistem
agribisnis di mana apabila salah satu subsistem tidak berjalan dengan baik maka
akan menjadi hambatan berjalannya sistem agribisnis. Strategi integrasi antar
subsistem dapat dilakukan dengan penerapan sistem agribisnis sebagai berikut:
pengembangan agribisnis di subsistem hulu merupakan subsistem yang melakukan
kegiatan ekonomi untuk menghasilkan sarana produksi ternak (sapronak), usaha
industri pakan, usaha pembibitan, industri obat-obatan ternak, dan industri
penyedia peralatan ternak. Pengembangan agribisnis di sektor hulu dapat
dilakukan dengan pembangunan pastura di kawasan pembibitan dan penggemukan sapi
potong dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong yang cukup banyak tersedia di
Kabupaten Bondowoso. Padang penggembalaan alam merupakan modal dasar untuk
mendukung produksi ternak ruminansia potong (Amar 2008), karena padang
penggembalaan merupakan penyedia hijauan yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia
(Gordeyase et al. 2006). Abidin et al.
(2015) menyatakan bahwa pengembangan usaha di sektor on farm dapat dilakukan
dengan melakukan pengembangan kawasan khusus penggemukan sapi potong yang dapat
berintegrasi dengan tanaman pertanian. Pengembangan kawasan peternakan sapi
yang terintegrasi dengan tanaman dapat dilakukan mengingat Kabupaten Bondowoso
memiliki banyak area perkebunan sehingga integrasi ini dapat memberikan hasil
yang optimal antara usaha ternak dan taninya. Pengembangan usaha di sektor
hilir dapat dilakukan dengan meningkatkan pelayanan di rumah pemotongan hewan
sehingga dapat dihasilkan daging sapi yang memenuhi standar aman, sehat, utuh,
dan halal (ASUH). Pengembangan di sektor hilir ini juga dapat dilakukan dengan
memperbaiki sistem pemasaran, Sumitra et al. (2013) menyatakan bahwa strategi
pemasaran sapi potong dapat dilakukan dengan 3 kebijakan, yaitu kebijakan
saluran pemasaran di mana pihak jagal dan pihak peternak melakukan perjanjian
kerjasama (MOU) untuk menyuplai ternaknya ke pihak jagal, yang kedua adalah
kebijakan harga dengan menentukan tingkat harga maupun stabilitas harga dalam pemasaran, kebijakan
yang ketiga adalah kebijakan gross margin dengan meningkatkan skala usaha.



Komentar
Posting Komentar