Perilaku konsumen 1
Pengertian Kepribadian
Kepribadian sering disebut juga “personality”. Istilah “personality” berasal dari kata latin “persona” yang
berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh
pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak,
atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana
seseorang tampak pada orang lain. Sedangkan personality menurut Kartini
Kartono adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan
orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah
laku, minat, pendiriran,
kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri
seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Teori Psikologi Kepribadian
1.
Teori Humanistik
Teori pertama yang dibahas mengenai ini
adalah teori humanistik. Teori ini dikemukakan oleh Abraham Maslow yang
berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan tindakan atau
memilih sendiri nasib yang akan dijalaninya.Teori ini sebenarnya berdasarkan
pada filsafat eksistensialisme yang menolak pendapat bahwa manusia merupakan
hasil bentukan sejak lahir atau disebut juga dengan hasil bentukan alam
semesta. Para ahli berasumsi bahwa individu memiliki kebebasan dalam memilih
tindakan atau menentukan sendiri nasibnya sebagai perwujudan dari
keberadaannya.
2.
Teori Behavioristik
Teori
behavioristik yang dikemukakan oleh beberapa orang ilmuan, berpendapat bahwa
ini adalah tindak laku manusia yang berdasarkan fungsi stimulus. Kepribadian
ini pada akhirnya diperoleh dari belajar pada lingkungan. Ilmuan yang
mengemukakannya adalah J. B. Watson, B. F. Skinner, E. L, Thorndike dan Ivan
Pavlov.
Para
ahli yang mengemukakan teori yang satu ini telah melakukan berbagai penelitian
dan menemukan bahwa segala tingkah laku manusia didapatkan dari proses belajar
yang berasal dari lingkungannya. Bukan yang didapat secara instan atau yang
dibawa secara lahir.
3.
Teori Psikodinamika
Teori psikodinamika yang dikemukakan oleh Sigmun Freud. Teorinya
memiliki pendapat bahwa dalam diri setiap individu terdapat energi psikis yang
dinamis. Energi inilah yang kemudian menentukan kepribadian manusia karena
bersikap kekal atau tak bisa dihilangkan bahkan dihambat sekalipun.
Pengukuran Kepribadian
Sifat kepribadian biasa diukur melalui
angka rata-rata pelaporan dari (self-report)kuesioner kepribadian (untuk sifat
khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya (personality inventory,
serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Ada beberapa macam cara
untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut ini adalah beberapa
diantaranya :
1.
Observasi Direct,
Observasi direct berbeda dengan observasi biasa. Observasi
direk mempunyai sasaran yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati
seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu
saat dapat diperkirakan munculnya indikator dari ciri-ciri yang hendak
diteliti, sedangkan observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih
waktu. Observasi direct diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau
dapat dibuat replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan
sebagainya.Ada tiga tipe metode dalam observasi direk yaitu:
a.
Data Time Sampling
Time
sampling method, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Hal
yang diobservasi mungkin sekadar muncul tidaknya respons, atau aspek tertentu.
b.
Incident Sampling Method
Incident
sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku dalam berbagai
situasi. Laporan observasinya mungkin berupa catatan-catatan dari Ibu tentang
anaknya, khusus pada waktu menangis, pada waktu mogok makan, dan sebgainya.
Dalam pencatatan tersebut hal-hal yang menjadi perhatian adalah tentang
intensitasnya, lamanya, juga tentang e fek-efek berikut setelah respons.
c.
Metode Buku Harian Terkontrol
Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian
tentang tingkah laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan
sendiri. Misalnya mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat
penggunaan metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa yang
cukup inteligen dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada
perkembangan ilmu pengetahuan.
2.
Wawancara
Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti
mengadakan tatap muka dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai.
Dalam psikologi kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara,
yakni:
a.
Stress interview
Stress interview digunakan untuk mengetahui sejauh mana
seseorang dapat bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan
juga untuk mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan
emosinya setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer ditugaskan untuk
mengerjakan sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih
sukar.
b.
Exhaustive
Interview
Exhaustive Interview merupakan cara interview yang
berlangsung sangat lama; diselenggarakn non-stop. Cara ini biasa digunakan
untuk meneliti para tersangka dibidang kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf
ketiga.
3.
Tes
proyektif
Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah
dengan menggunakan tes proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan
dirinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada
dasarnya memberi peluang kepada tester
(orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan;
tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah. Jenis yang termasuk tes
proyektif adalah:
a.
Tes
Rorschach
Tes yang dikembangkan oleh seorang dkter psikiatrik Swiss,
Hermann Rorschach, pada tahun 1920-an, terdiri atas sepuluh kartu yang
masing-masing menampilkan bercak tintan yang agak kompleks. Sebagian bercak itu
berwarna; sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut diperlihatkan kepada
mereka yang mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk
menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu.
Meskipun noda-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang
mereka berikan berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang
mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Analisis
dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai
susunan kepribadiannya.
b.
Tes
Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT)
Tes apersepsi tematik atau Thematic Apperception Test
(TAT), dikembangkan di Harvard University oleh Hendry Murray pada tahun
1930-an. TAT mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi
lukisan-lukisan, sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah.
Para peserta diminta mengarang sebuah cerita mengena tiap-tiap gambar yang
diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta membuat sebuah cerita mengenai latar
belakang dari kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar, mengenai
pikiran dan perasaan yang dialami oleh orang-orang didalam gambar itu, dan
bagaimana episode itu akan berakhir. Dalam menganalisis respon terhadap kartu
TAT, ahli psikologi melihat tema yang berulang yang bisa mengungkapkan
kebutuhan, motif, atau karakteristik cara seseorang melakukan hubungan
antarpribadinya.
4. Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong
individu untuk melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu.
Kuesioner ini mirip wawancara terstruktur dan ia menanyakan pertanyaan yang
sama untuk setiap orang, dan jawaban biasanya diberikan dalam bentuk yang mudah
dinilai, seringkali dengan bantuan komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan,
investori kepribadian mungkin dirancang untuk menilai dimensi tunggal
kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian
secara keseluruhan. Investori kepribadian yang terkenal dan banyak digunakan
untuk menilai kepribadian seseorang ialah: (a) Minnesota Multiphasic
Personality Inventory (MMPI), (b) Rorced-Choice Inventories, dan (c)
Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan aktivitas manusia yang dilakukan
sepanjang hidupnya, bahkan sejak manusia berada didalam kandungan. Perilaku
manusia, termasuk perilaku konsumsi merupakan hasil dari proses pembelajaran.
Manusia memproses informasi yang diterima panca inderanya dan masuk kedalam
otak sebagai persepsi yang disimpan dalam memori untuk digunakan pada waktu
manusia merespon informasi dikemudian hari. Permasalahan yang timbul adalah
bagaimana memori dan perilaku diubah sebagai akibat dari pengolahan informasi,
secara sadar maupun tidak sadar, hal inilah yang disebut sebagai pembelajaran.
Teori Belajar
1.
Teori Belajar Menurut Thorndike
(Teori Koneksionisme)
Menurut Thorndike, belajar
merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi asosiasiantara peristiwa-peristiwa yang
disebut stimulus dengan respon. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan
eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau
berbuat sedangkan respon diri adalah segala tingkah laku yang terjadi diakibatkan
karena adanya perangsang. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and
connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh
karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut
dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.
2. Teori Belajar
Menurut Skinner
Skinner mengatakan bahwa unsur
terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan
yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi
penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif
dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku,
atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau
tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku
tidak senang.
3. Teori
Belajar Menurut Robert M. Gagne
Gagne
membagi proses belajar berlangsung dalam empat fase utama, yaitu
a. Fase Receiving the stimulus situation
(apprehending)
b. Fase Stage of Acquition
c. Fase Storage/Retensi
d. Fase Retrieval/Recall
4. Teori
Belajar Menurut Bruner
Bruner menyatakan belajar
merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal
baru di luar informasi yang diberikan kepada dirinya. Agar pembelajaran dapat
mengembangkan keterampilan intelektual anak dalam mempelajari sesuatu
pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka materi pelajaran perlu
disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/pengetahuan anak
agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif)
orang tersebut.
Faktor Sikap
2.3.1 Pengertian Sikap
Sikap (attitudes) konsumen adalah faktor
penting yang akan mempengaruhi keputusan konsumen. Sikap adalah konsep penting
dalam literatur psikologi lebih dari satu abad, lebih dari 100 definisi dan 500
pengukuran sikap telah dikemukakan oleh para ahli (Peter dan Olson,2010).
Definisi tersebut menggambarkan pandangan kognitif dari psikolog sosial, dimana
sikap dianggap memiliki tiga unsur, pertama kognitif (pengetahuan), kedua
afektif (emosi,perasaan), ketiga konatif (tindakan). Berdasarkan beberapa
definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan ungkapan perasaan
konsumen tentang suatu objek apakah
disukai atau tidak, dan sikap juga bisa menggambarkan kepercayaan
konsumen terhadap berbagai atribut dan manfaat dari objek tersebut.
2.3.2 Teori Sikap
a.
Teori sikap beralasan (theory of reasoned action)
Ajzen dan Fishbein (1980) dalam
Schiffman dan Kanuk (2010) mengembangkan Theory of Reasoned Action atau Theory
of Behavioral Intention. Teori ini merupakan pengembangan dari teori sikap
sebelumnya yang menekankan kepada sikap terhadap suatu objek. Model sikap
Theory of Reasoned Action ini mengintegrasikan komponen sikap secara
komprehensif ke dalam sebuah struktur yang dirancang untuk dapat menjelaskan dan
memprediksi perilaku dengan lebih baik. Model ini mengintegrasikan komponen
kognitif, afektif, dan koantif seperti model sikap trikomponen yang juga
mengintegrasikan kompenen kognitif, afektif, dan koantif.
b.
Teori sikap mencoba (theory of trying)
Teori sikap mencoba (theory of trying) menyatakan bahwa dalam model
sikap, kriteria perilaku sikap beralasan harus diganti dengan usaha pencapaian
tujuan. Perspektif ini mengakui bahwa adanya faktor tambahan mungkin
berpengaruh terhadap tujuan dan hambatan kinerja secara personal maupun lingkungan yang mungkin mencegah
individu untuk mencapai tujuan. Solomon (2007) menyatakan bahwa teori sikap
mencoba mencakup beberapa komponen baru yang menjelaskan situasi yang kompleks
dimana banyak faktor, baik berupa bantuan untuk mencapai maupun menghalangi
niat untuk melakukan tindakan pencapaian tujuan.
c.
teori perilaku terencana (theory of planned behaviour)
Theory of planned behaviour (TPB) adalah model sikap yang
dikembangkan dari model sikap Theory of reasoned action (TRA). Model ini
dikembangkan oleh Azjen pada tahun 1985. Model ini juga dikembangkan dari model
multiatribut Fishbein. TPB adalah model sikap yang memperkirakan minat atau
niat konsumen untuk melakukan suatu perilaku atau tindakan. Model TPB menjelaskan
bahwa faktor utama yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah niatnya atau
kecenderungan untuk melakukan tindakan tersebut. TPB seperti dikemukakan Ajzen
(1991) menyatakan bahwa perilaku manusia terlebih dahulu dipengaruhi oleh minat
(behaviour intentions).
2.3.3 Fungsi Sikap
a.
Fungsi Utilitarian (The Utilitarian Function)
Seseorang menyatakan sikapnya terhadap suatu objek atau
produk karena ingin memperoleh manfaat dari produk (rewards) tersebut atau
menghindari risiko dari produk (punishment). Sikap berfungsi mengarahkan
perilaku untuk mendapatkan penguatan positif (positive reinforcement) atau
menghindari risiko (punishment).
b.
Fungsi Mempertahankan Ego (The Ego-Defensive Function)
Sikap berfungsi untuk melindungi seseorang (citra diri self
images) dari keraguan yang muncul dari dalam dirinya sendiri atau dari faktor
luar yang mungkin menjadi ancaman bagi dirinya. Sikap tersebut berfungsi untuk
meningkatkan rasa aman dari ancaman yang datang dan menghilangkan keraguan yang
ada dalam diri konsumen. Sikap akan menimbulkan kepercayaan diri yang lebih
baik untuk meningkatkan citra diri dan mengatasi ancaman dari luar.
c.
Fungsi Ekspresi Nilai (The Value-Expressive Function)
Sikap berfungsi untuk menyatakan nilai-nilai, gaya hidup,
dan identitas sosial dari seseorang. Sikap akan menggambarkan minat, hobi,
kegiatan, dan opini dari seorang konsumen.
d.
Fungsi Pengetahuan (The Knowledge Function)
Keingintahuan adalah salah satu karakter konsumen yang
penting. Ia selalu ingin tahu banyak hal, merupakan kebutuhan konsumen.
Seringkali konsumen perlu tahu produk terlebih dahulu sebelum ia menyukai
kemudian membeli produk tersebut. pengetahuan yang baik mengenai suatu produk
seringkali mendorong seseorang untuk menyukai produk tersebut. karena itu sikap positif terhadap
suatu produk seringkali mencerminkan pengetahuan konsumen terhadap suatu
produk.
Studi Kasus Faktor Kepribadian
Analisis
Faktor-Faktor Pribadi Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Sepeda Motor Yamaha
Di Lumajang
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh faktor-faktor
pribadi yang terdiri dari umur dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi
ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri terhadap keputusan pembelian
sepeda motor Yamaha di Lumajang. Berdasar
tujuan yang telah dijelaskan sebelumnya,peneliti membatasi permasalah sebagai
berikut :
1.
Factor-faktor pribadi yang mempengaruhi
keputusan pembelian terdiri dari variable umur dan tahap siklus hidup,
pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.
2.
Penelitian ini hanya ingin mengetahui
bagaimana pengaruh variable umur dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi
ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri terhadap keputusan pembelian
sepeda motor merek Yamaha di Lumajang.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa untuk variabel umur dan tahap siklus hidup
mempunyai pengaruh negative atau berlawanan terhadap keputusan pembelian sepeda
motor yamaha, variabel pekerjaan tidak
mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian sepeda motor yamaha, variabel
situasi ekonomi mempunyai pengaruh positif atau searah terhadap keputusan pembelian
sepeda motor yamaha, variabel gaya hidup tidak mempunyai pengaruh terhadap
keputusan pembelian sepeda motor yamaha, dan variabel kepribadian dan konsep
diri mempunyai pengaruh negatif atau berlawanan terhadap keputusan pembelian
sepeda motor yamaha. Sedangkan secara simultan terdapat pengaruh umur dan tahap
siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep
diri secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian sepeda
motor yamaha dengan koefisien determinasi (adjusted R2) diperoleh sebesar
0,487, yang menunjukkan bahwa 48,7% keputusan pembelian sepeda motor yamaha
dapat dijelaskan oleh umur dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomi,
gaya hidup, kepribadian dan konsep diri, sedangkan sisanya 51,3% keputusan
pembelian sepeda motor yamaha dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya yang
tidak diteliti dalam penelitian ini.
Studi Kasus
Faktor Pembelajaran
Analisis Motivasi, Persepsi, Pembelajaran, Dan Sikap Konsumen
Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Di Kfc Bahu Mall Manado
Jurnal analisis
motivasi, persepsi, pembelajaran, dan sikap konsumen terhadap keputusan
[embelian di KFC Bahu Mall Manado memebahas mengenai persepsi konsumen terhadap
perusahaan yang mendorongnya untuk membeli, serta pembelajaran konsumen dalam
menggunakan, mengkonsumsi serta memanfaatkan produk atau jasa perusahaan.
Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang membeli produk KFC di Bahu
Mall dengan jumlah sampel sebanyak 84 responden. Analisis yang digunakan untuk
melihat hubungan pembelajaran dengan keputusan konsumen adalah regresi linear
berganda.
Berdasarkan hasil
uji hipotesis dan analisis regresi menunjukkan bahwa variabel pembelajaran
konsumen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian khususnya
pada responden di KFC Bahu Mall Manado, dan memiliki pengaruh yang positif. Hal
ini berarti bahwa ada hubungan yang signifikan dari pembelajaran konsumen
terhadap suatu keputusan pembelian. Implikasi dari penelitian ini yaitu
pembelajaran konsumen merupakan salah satu variabel prediktor terhadap
keputusan pembelian khususnya pada keputusan pembelian konsumen dalam industri
makanan cepat saji di Manado dan sekitarnya. Bahkan dalam model penelitian ini
pembelajaran konsumen merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh
terhadap keputusan pembelian konsumen.
Pembelajaran
konsumen yaitu proses dimana individu memperoleh pengetahuan untuk membeli dan
pengetahuan bagi konsumen serta berbagai pengalaman yang diperlukan di masa
yang akan datang dalam rangka membeli di KFC Bahu Mall perlu diciptakan oleh
pihak KFC agar konsumen cepat belajar baik konsumen baru dan terutama konsumen
lama. Penilaian evaluatif konsumen yaitu sikap konsumen juga perlu diperhatikan
oleh pihak KFC Bahu Mall dalam rangka meningkatkan keputusan pembelian konsumen
di stornya
Studi Kasus
Faktor Sikap
Analisis Sikap Konsumen Terhadap Produk
Olahan Singkong.
Kandungan karbohidrat singkong yaitu 38
gram per 100 gram singkonng atau setara dengan 12%, sehingga singkong cocok
dijadikan makanan pengganti beras. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten
Jombang pada bulan Oktober-November 2017. Sampel untuk penelitian ini adalah
siswa pondok pesantren Al-Mardiyah Tambak beras. Tujuan penelitian ini untuk
menganalisis sikap konsumsi terhadap produk olahan singkkong. Atribut yang
digunakan dalam penelitian adalah rasa, warna, bau, dan tekstur.
Produk yang digunakan sebagai objek penelitian adalah
singkong rebus, singkkong goreng, singkong bakar, keripik singkong, tape, slondok,
dan gethuk. Sikap konsumen terhadap berbagai produk olahan singkong bernilai
positif. Hal tersebut menunjukkan bahwa singkong bisa dijadikan alternatif
sebagai bahan pangan pokok pengganti beras. Nilai positif paling tinggi
berdasarkan sikap konsumen ialah keripik singkong. Keripik singkong dinilai
enak, praktis, dan cocok dijadikan makanan ringan.
Komentar
Posting Komentar