sistem agribisnis peternakan
Kecamatan Karangpucung merupakan
sentra peternakan kambing Jawa Randu yang dikembangkan oleh sebagian besar
masyarakat setempat. Jenis kambing Jawa Randu merupakan hasil persilangan
kambing Jawa dengan kambing Etawa, yang disebut kambing Jawa Randu. Hasil peternakan
kambing Jawa Randu memiliki peminat tinggi, bukan hanya dari masyarakat lokal
saja namun juga peminat dari luar daerah bahkan luar provinsi. Konsumen Kambing
Jawa Randu berasal dari Banyumas, Banjarnegara, Purworejo, Kebumen, Jawa Barat
dan DKI, dan sekitarnya. Namun demikian, pengembangannya selama ini hanya
dilakukan dengan cara tradisional yang turun temurun bahkan sebagian masih
berifat subsisten atau hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri, dan
belum berorientasi belum
berorientasi pada sistem agribisnis secara keseluruhan karena masih mengalami
kendala dalam melakukan subsistem hilir. Tujuan penelitian ini adalah untuk
merumuskan penerapan sistem agribisnis peternakan kambing Jawa Randu dalam
kerangka pengembangan wilayah di
Kecamatan Karangpucung. Sasaran studi ini meliputi analisis aktivitas
peternakan kambing Jawa Randu, analisis keterkaitan antar wilayah, analisis
keterkaitan ke belakang dan ke depan, dan analisis penerapan sistem
agribisnis peternakan kambing dalam kerangka pengembangan wilayah
Kecamatan Karangpucung. Teknik analisis yang digunakan meliputi analisis
kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan dengan
menggunakan metode kalkulasi yang menghitung usaha tani serta menghitung
kelayakan financial industri pengolahan kulit. Analisis kualitatif digunakan
dengan metode deskriptif kualitatif serta dengan menggunakan skema yang
menggambarkan kondisi eksisting aktivitas peternakan kambing Jawa Randu. Output
yang dihasilkan dari penelitian ini adalah diketahuinya level penerapan sistem
agribisnis peternakan kambing Jawa Randu yang baru sampai pada kegiatan hulu,
budidaya, dan penunjang, sedangkan pada kegiatan hilir baru berupa pengolahan
pupuk. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa jika sistem agribisnis
diterapkan pada peternakan kambing Jawa Randu, maka Kecamatan Karangpucung akan
bisa berkembang terkait dengan peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja,
penyediaan bahan pangan, dan pengembangan fisik Kecamatan
Karangpucung.


Berikut adalah
analisis usaha ternak kambing
Jawa Randu yang didasarkan pada contoh analisis usaha ternak kambing
www.deptan.go.id . Penghitungan didasarkan
pada rata-rata peternak
yang memiliki kambing 10 ekor,
dengan 2 ekor jantan, dan 8 ekor betina. Hal tersebut dikarenakan berdasarkan
hasil kuesioner, didapatkan rata-rata peternak memiliki kambing antara 5-10
ekor. Berikut adalah hasil perhitungan usaha tani peternakan kambing Jawa
Randu:
Pendapatan Peternak: Pd = TR -
TC = Rp 18.122.500 - Rp
10.000.000,- = Rp 8.122.500,- per tahun
Pendapatan Peternak = Rp 676.875,- per bulan
Pendapatan tersebut
hanya dihasilkan dari
penjualan kambing mentah
saja, namun jika dilakukan
variasi kegiatan hilir
dikembangkan dari produk
turunan dari kambing menjadi
produk yang sifatnya intermediate , seperti: Kulit diolah menjadi kerupuk
rambak, susu diolah menjadi susu cair murni (kambing perah), daging kambing
potong, dengan usaha rumah potong hewan (RPH), maka pendapatan peternak adalah:
Analisis Kelayakan Usaha Kerupuk
Rambak dari Kulit Kambing
Jumlah Pendapatan =
(30.054.440,00+
51.370.606,00 + 47.916.700,00 +
39.885.383,50) / 4 tahun
= Rp 42.306.782,25/ tahun
= Rp 3.525.565,19 per bulan
Analisis Kelayakan Usaha Susu Murni
Kambing Jawa Randu
Jumlah Pendapatan =
(61.810.902,00 + 63.307.492,00
+ 69.993.970,00 +
122.808.056,00)/ 4
= Rp 79.480.105/ tahun
= Rp 6.623,342,10 per bulan
Analisis Kelayakan Usaha Rumah
Potong Hewan
Jumlah Pendapatan = 1.098.820.620 + 1.169.273.860 +
1.057.090.700 + 932.067.980/4
= 1.064.313.290/ tahun
= Rp
88.692.774,17 per bulan
Dari hasil perhitungan ke tiga
kegiatan hilir berupa usaha kerupuk rambak, usaha pengolahan susu murni, dan
usaha rumah potong hewan membuktikan bahwa terdapat peningkatan pendapatan
yang akan didapatkan
oleh peternak maupun
masyarakat apabila melakukan variasi kegiatan hilir tersebut.
Komentar
Posting Komentar